Hari ini 9 April 2009 aku kembali memberikan pilihan pada Caleg di TPS.
Seperti bernostalgia saja. Aku berangkat dari rumah dengan menggunakan sepeda gunungku jam 7.00 pagi walaupun sebenarnya jarak rumah dan TPS cukup dekat. Ketika tiba di TPS aku teringat lima tahun yang lalu ketika aku menjadi ketua KPPS.
Aku memarkirkan sepedaku kemudian menyalami orang-orang yang ada di sekitar TPS.
Aku masuk ke bagian pendaftaran lalu menyerahkan surat panggilan.
Setelah mencari dan mencontreng nama saya pada DPT ( Daftar Pemilih Tetap )aku diberi nomor 19 oleh bagian pendaftaran.
Karena pemungutan suara belum dimulai, aku kembali mengayuhkan sepeda ke rumah untuk mengambil camera digitalku. Aku memang senang mengabadikan momen-momen penting, apalagi ini Pemilu yang dilakukan hanya setiap lima tahun sekali.
Ketika aku tiba kembali di TPS Acara Pemungutan suara sudah dimulai:
1. Pembukaan oleh ketua KPPS
2. Pengambilan sumpah anggota KPPS oleh ketua KPPS, semua anggota KPPS dipersilahkan
beridiri.
3. Pembukaan Kotak suara yang masih disegel, dan berisi surat suara yang akan di
dicoblos, disaksikan oleh para saksi dari perwakilan partai, aku lihat hanya ada
empat orang. Dan salah satu pengawas yaitu seorang ibu entah dari partai apa ,
karena saya tidak sempat bertanya, terlihat sangat sibuk dan agak teliti dan
cerewet, tapi yang tiga orang diam saja.
4. Setelah semua surat suara dikeluarkan, ketua KPPS menunjukkan kotak yang sudah
kosong.Kotak suara yang sudah kosong ini kemudian ditempatkan ditempat kotak suara
di atas meja yang sudah disediakan. Selanjutnya penghitungan surat suara dimulai.
Setelah dihitung semua, ketua KPPS menyebutkan jumlah surat suara seluruhnya
5. Acara selanjutnya, penandatangan surat suara oleh Ketua dan sekretaris KPPS,
sementara bagian pendaftaran terus menerima Pemilih yang mendaftar.
6. Pemungutan suara dimulai, Pemilih dipanggil satu persatu mulai dari nomor urut
satu dan seterusnya. Pemilih mengambil surat suara sebanyak 4 lembar, kemudian
masuk ke bilik suara , mencontreng, lalu memasukkan surat suara ke dalam empat
kotak yang tersedia ( DPR Pusat, DPRD Jabar, DPRD Kota bandung, dan DPD), sesuai
dengan warna surat suara.
7. Pemilih mencelupkan jarinya ke dalam tinta di pintu keluar.
Sambil menunggu giliran dipanggil oleh KPPS, saya mengambil foto setiap momen penting kemudian saya memperhatikan Partai-partai dan nama caleg yang ada di bawah nama partai yang terpambang di luar TPS. Tujuannya adalah untuk mempermudah mencontreng partai apa dan siapa nama caleg yang akan dicontreng nanti. Walaupun sebenarnya saya sudah mempersiapkannya dari rumah.
Akhirnya tibalah giliran saya. Saya masuk TPS, mengambil surat suara, mencontreng caleg yang menurut saya qualified, lalu memasukkannya ke dalam kotak suara.
Kriteria caleg atau pemimpin yang qualified, yaitu :
1. Syarat mutlaknya adalah orang seiman ( Islam ) sesuai dengan firman
Alloh yang terdapat dalam surat Ali Imron : 28,
"Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi pemimpin bagi
orang-orang yang beriman. Barang siapa yang berbuat demikian bukanlah dia dari
agama Alloh sedikitpun...."
2. Kriteria berikutnya adalah :
a. Sidiq, artinya jujur. Seorang pemimpin harus jujur. Pemimpin yang jujur
pasti dapat mencegah KKN ( kolusi. korupsi, dan nepotisme ).
b. Amanah, artinya dapat dipercaya. Orang yang tidak bisa memegang amanah
adalah ciri orang-orang munafiq. Ciri orang munafik ada 3 yaitu:
- bila bicara selalu bohong. Lihatlah ucapan orang yang berbicara kepada
kita, lalu perhatikan apakah ucapannya sesuai dengan tindakannya. Kalau
tidak sesuai berarti dia adalah orang munafiq.
- bila berjanji diingkari ( tidak ditepati ).Hal ini banyak dilakukan caleg
yang mengumbar janji-janji pada waktu kampanye agar orang memilihnya.
Tetapi setelah terpilih lupa akan janji-janjinya.
- bila diberi amanah (kepercayaan) selalu dikhianati.
d. Tabligh, artinya meyampaikan ayat-ayat Alloh, sunah Rosululloh, tausiyah,
nasihat, atau petunjuk yang baik dan benar kepada orang yang dipimpinnya.
e. Fathonah, artinya pintar. Pemimpin harus pintar. Tapi pintar bukanlah syarat
utama, tapi syarat terakhir. Karena percuma pintar kalau tidak memiliki tiga
syarat di atas. Akhirnya kepintarannya akan dipergunakan untuk membodohi
orang-orang yang dipimpinnya. Walau demikian pemimpin juga tidak boleh
bodoh. Karena pemimpin yang bodoh bisa diperalat oleh orang lain.
Demikianlah kriteria pemimpin atau caleg yang harus kita pilih untuk menjadi pemimpin.
Semoga pemimpin atau caleg yang terpilih pada Pemilu 2009 memiliki kriteria di atas.
Blog ini adalah kumpulan berbagai macam tulisan dari buah fikiran saya yang saya alami, saya amati, dan saya baca. Kenapa dibelakang Judul Blog ada tambahan d'Is? d'Is adalah judul rumus Fisika ketika saya selesai menurunkan suatu rumus pada waktu saya mengajar. Sehingga d'Is sangat populer dikalangan anak didik saya..........
Tampilkan postingan dengan label Pemilu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemilu. Tampilkan semua postingan
Kamis, 09 April 2009
Jumat, 27 Maret 2009
CALEG ( Calon legislatif )
Pemilu sebentar lagi. Kampanye sudah berlangsung. Para caleg sudah memasang foto mereka dimana-mana , di tembok atau pagar rumah orang ( yang tentunya jarang ada yang minta izin. kalau minta izin hampir pasti tidak diizinkan oleh yang punya rumah, karena takut dianggap simpatisan suatu partai dan mengotori tembok), di tiang litrik, di atas pohon, di batang pohon, di atas bangunan yang tinggi dan diberbagai tempat lainnya yang mudah di lihat orang.
Berbagai selogan dan cara menempelkan foto. Ada yang fotonya miring, ada yang fotonya sengaja dipasang terbalik, ada yang fotonya didampingi foto orang tuanya yang kiyai terkenal atau ada yang fotonya dipasang berdampingan dengan Pemimpin Partai yang sudah terkenal, atau bahkan ada yang fotonya dipasang bersama dengan foto Barack Obama, yang presiden Amerika Serikat...pokoknya bermacam-macam.
Selogannya untuk manarik simpati masyarakat bermacam-macam pula, misalnya " Dengan menatap gambar saya, saya sudah senang. Mudah-muahan anda mengingatnya pada Pemilu nanti", "Bersih, peduli, propesional", " Berbuat untuk rakyat ", " Bermanfaat bagi masyarakat", " Energik -cerdas - berkualitas", " Insya Alloh amanah dalam menyalurkan aspirasi masyarakat", "50 persen gajiku untuk rakyatku", " Mengedepankan Kepentingan Masyarakat Transfortasi , Pendidikan , Kesehatan dan UKM ", dan lain-lain.
Hari Selasa, 24 Maret 2009, ketika saya sedang duduk di depan komputer, saya mendengar orang membuka pintu gerbang , kemudian mengetuk dengan mengucapkan salam.
Saya intip sebebntar ternyata tamu yang mengetuk pintu tidak saya kenal. Karena di rumah saya suka memakai celana pendek dan kaos oblong saja, lalu dengan terburu-buru saya memakai sarung dan lalu memakai baju koko.
Saya membuka pintu, ternyata tamunya dua orang laki dan perempuan, kelihatannya suami istri dan saya mempersilahkan masuk. Lalu saya tanyakan tujuan kedatangannya ke rumah saya. Tamu tersebut memperkenalkan diri bahwa yang bersangkutan adalah caleg dari salah satu Partai dan menyatakan bahwa yang berangkutan adalah anak dari salah satu kiyai suatu pesantren yang cukup terkenal di kota Bandung.
Kemudian tamu tersebut menyerahkan sebuah kartu nama dan fotonya bersama sang ayah yang seorang Kiyai tersebut. Saya berkata dalam hati baru sekarang ada caleg datang kerumah saya dan memperkenalkan diri serta tujuan dan alasannya menjadi caleg.
Melihat cara bicara dan penampilannya yang sederhana akhirnya saya jadi simpati juga kepada yang bersangkutan. Akhirnya setelah kami berdiskusi selama kurang lebih dua jam kami berangkat shalat magrib di Masjid.
Setelah tamu itu pulang, saya berkata pada isteri saya, seharusnya beginilah cara seorang caleg mencari simpati pemilih. Kita jadi tahu siapa yang harus kita pilih. Tau track recordnya. Tidak seperti beli kucing dalam karung. Apalagi para caleg DPRD tingkat Kota yang sangat berkepentingan untuk memperjuangkan kemajuan daerah yang nanti akan menjadi wilayah kerjanya.
Seorang caleg harus tahu betul karakter masyarakat yang menjadi pendukungnya agar nanti setelah terpilih menjadi caleg dia tidak canggung lagi berhadapan dengan mayarakat.
Bagi seorang muslim adalah suatu kewajiban untuk memilih pemimpin dari golongan orang Islam yang beriman. Walaupun orang Islam tapi kalau tidak beriman kita tidak wajib memilihnya. Dan orang Islam diharamkan memilih pemimpin dari golongan orang-orang yang tidak beriman (kafir), kecuali karena takut akan kezaliman mereka, Seperti firman Alloh dalam surat Ali Imran ayat 28:
"Dan janganlah orang-orang mukmin memilih orang-orang kafir menjadi pemimpin bagi orang-orang yang beriman. Barangsiapa yang berbuat demikian bukanlah dari agama Alloh sedikitpun. Kecuali kamu takut kepada mereka dengan benar-benar takut. Dan Alloh mempertakutkan kamu dengan diriNya dan kepada Alloh kamu kembali."
Berbagai selogan dan cara menempelkan foto. Ada yang fotonya miring, ada yang fotonya sengaja dipasang terbalik, ada yang fotonya didampingi foto orang tuanya yang kiyai terkenal atau ada yang fotonya dipasang berdampingan dengan Pemimpin Partai yang sudah terkenal, atau bahkan ada yang fotonya dipasang bersama dengan foto Barack Obama, yang presiden Amerika Serikat...pokoknya bermacam-macam.
Selogannya untuk manarik simpati masyarakat bermacam-macam pula, misalnya " Dengan menatap gambar saya, saya sudah senang. Mudah-muahan anda mengingatnya pada Pemilu nanti", "Bersih, peduli, propesional", " Berbuat untuk rakyat ", " Bermanfaat bagi masyarakat", " Energik -cerdas - berkualitas", " Insya Alloh amanah dalam menyalurkan aspirasi masyarakat", "50 persen gajiku untuk rakyatku", " Mengedepankan Kepentingan Masyarakat Transfortasi , Pendidikan , Kesehatan dan UKM ", dan lain-lain.
Hari Selasa, 24 Maret 2009, ketika saya sedang duduk di depan komputer, saya mendengar orang membuka pintu gerbang , kemudian mengetuk dengan mengucapkan salam.
Saya intip sebebntar ternyata tamu yang mengetuk pintu tidak saya kenal. Karena di rumah saya suka memakai celana pendek dan kaos oblong saja, lalu dengan terburu-buru saya memakai sarung dan lalu memakai baju koko.
Saya membuka pintu, ternyata tamunya dua orang laki dan perempuan, kelihatannya suami istri dan saya mempersilahkan masuk. Lalu saya tanyakan tujuan kedatangannya ke rumah saya. Tamu tersebut memperkenalkan diri bahwa yang bersangkutan adalah caleg dari salah satu Partai dan menyatakan bahwa yang berangkutan adalah anak dari salah satu kiyai suatu pesantren yang cukup terkenal di kota Bandung.
Kemudian tamu tersebut menyerahkan sebuah kartu nama dan fotonya bersama sang ayah yang seorang Kiyai tersebut. Saya berkata dalam hati baru sekarang ada caleg datang kerumah saya dan memperkenalkan diri serta tujuan dan alasannya menjadi caleg.
Melihat cara bicara dan penampilannya yang sederhana akhirnya saya jadi simpati juga kepada yang bersangkutan. Akhirnya setelah kami berdiskusi selama kurang lebih dua jam kami berangkat shalat magrib di Masjid.
Setelah tamu itu pulang, saya berkata pada isteri saya, seharusnya beginilah cara seorang caleg mencari simpati pemilih. Kita jadi tahu siapa yang harus kita pilih. Tau track recordnya. Tidak seperti beli kucing dalam karung. Apalagi para caleg DPRD tingkat Kota yang sangat berkepentingan untuk memperjuangkan kemajuan daerah yang nanti akan menjadi wilayah kerjanya.
Seorang caleg harus tahu betul karakter masyarakat yang menjadi pendukungnya agar nanti setelah terpilih menjadi caleg dia tidak canggung lagi berhadapan dengan mayarakat.
Bagi seorang muslim adalah suatu kewajiban untuk memilih pemimpin dari golongan orang Islam yang beriman. Walaupun orang Islam tapi kalau tidak beriman kita tidak wajib memilihnya. Dan orang Islam diharamkan memilih pemimpin dari golongan orang-orang yang tidak beriman (kafir), kecuali karena takut akan kezaliman mereka, Seperti firman Alloh dalam surat Ali Imran ayat 28:
"Dan janganlah orang-orang mukmin memilih orang-orang kafir menjadi pemimpin bagi orang-orang yang beriman. Barangsiapa yang berbuat demikian bukanlah dari agama Alloh sedikitpun. Kecuali kamu takut kepada mereka dengan benar-benar takut. Dan Alloh mempertakutkan kamu dengan diriNya dan kepada Alloh kamu kembali."
Langganan:
Postingan (Atom)