Pages

Rabu, 08 Februari 2023

proposal isra' mi'raj

                                                               PROPOSAL

I. Nama Kegiatan
Peringatan Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad saw tahun 1444 H

II. Pendahuluan
1. Latar belakang
Peristiwa Isra’dan mi'raj Nabi Muhammad saw terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun ke-11 Hijriyah
Isra' artinya perjalanan  di malam hari adalah perjalanan Nabi Muhammad ditemani Malaikat Jibril di suatu malam hari secara horizontal dari Masjidil Haram di kota Makkah Al – Mukarromah menuju  ke Madjidil  Aqsho di Yerusalem Palestina. Mi'raj artinya naik adalah perjalan vertikal Nabi Muhammad  saw ditemani Malaikat Jibril dari Masjidil Aqsho ke Sidrotil Muntaha. Disinilah Nabi Muhammad  saw pertama kali menerima perintah sholat 5 waktu langsung dari Alloh swt dan kemudian menjadi sholat wajib bagi ummat Islam.
Peristiwa Isra' dan mi'raj  adalah peristiwa yang sangat  penomenal yang dialami oleh Nabi Muhammad saw sehingga sudah seharusnya di peringati setiap tahun sebagai wujud syukur kita kapada  Alloh swt dan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Alloh swt.

2. Tujuan
a) Meningkatkan ukhuwah islamiyah dan silaturahim antara jamaah yang berada  di lingkungan Masjid Almuhajirin khususnya dan antara sesama muslim secara umum.
b) Sebagai sarana untuk tholabul ilmi dengan mengadakan kegiatan yang bermanfaat.
c) Memotivasi anak anak dan para remaja agar menjadi generasi penerus yang mencintai Rosululloh saw dan mencintai Masjid 
d) Menguatkan pemahaman dan pengetahuan jamaah tentang pentingnya sholat bagi diri sendiri dan ummat untuk kehidupan dunia dan sebagai bekal di akhirat


III. Rincian Kegiatan
Kegiatan di mulai   dengan pembukaan oleh MC, pembacaan ayat suci Alquran, sambutan ketua DKM, sambutan Ketua RW, Tampilan para sandiri MBM, Kajian Isra'  mi'raj oleh narasumber, tanya jawab  jamaah dengan  nara sumber,  du'a, dan diakhiri dengan penutup  oleh MC

IV. Peserta Kegiatan
V. Lokasi dan waktu kegiatan
1. Lokasi kegiatan 
Kegiatan di laksanakan di Masjid Al Muhajirin RW.14 Sadangsari

2. Waktu kegiatan
Hari       : Sabtu 
Tanggal :18 Februari 2023
Jam        : 08.00 – 11.00

VI. Susunan acara
1. Pembukaan
2. Pembacaan ayat suci  Al-Qura-an
3. Sambutan sambutan
4. Penampilan santriwan dan santriwati  MBM Masjid Al Muhajirin
5. Kajian Isra' dan Mi'raj oleh Nara sumber
6. Tanya jawab jamaah dengan nara sumber
7. Du’a oleh Nara sumber
8. Penutup 

VII. Susunan Kepanitiaan
1. Penasihat  : Bp Ketua RW.14
2. Penanunggung jawab : Ketua DKM Al Muhajirin
3. Ketua Panitia : Ibu Odah Saodah
4. Sekretaris : Bp. Erwan
5. Bendahara : Bp. Giman Rustomo
6. Seksi  seksi
1) Konsumsi : Ibu Siti Aminah dan ibu Sunarjo
2) Acara  : Ibu Ratna
3) Peralatan : Bp. Budi
4) Umum  : Bp Agus Jaenudin dan Bp Yono

VIII. Anggaran biaya)
1. Spanduk                                  (2 buah   × @Rp. 150.000) 
2. Nara sumber                           (1 orang  ×@ Rp 500.000)
3. Cindra mata buat sanrtri      (40 orang x@Rp. 15.000)
4. Konsumsi jamaah                   (120 orang x@Rp.15.000)  
5. Air minum                               (4 dos × @Rp 50.000)
6. Lain lain/Dokumentasi          (1 paket ×   @Rp. 200.000
      TOTAL                                     Rp. 3,600.000,00

IX. Penutup

Demikian Proposal kegiatan ini kami lampirkan. Kami memohon partisipasi dan bantuan dari Bapak/Ibu agar kegiatan ini berjalan dengan lancar.  Semoga acara ini diberkahi oleh Allah SWT, dan terlaksana sesuai dengan harapan. Mohon maaf kami sampaikan darii hati kami yang paling dalam apabila ada kekhilafan dalam penulisan maupun penyampaian maksud, karena kesalahan adalah milik kami dan kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. 
Atas perhatian, pzrtosipasi  dan kerja samanya, kami ucapkan terima kasih.


Minggu, 15 Januari 2023

Tahun Baru 2023

Masjid Safar Km 88 Cipulang

Isim mabni

6 Isim Mabni

1. Isim istifham(kata tanya) 

#maa/apa
#man/siapa
#mataa/kapan
#aina/dimana
#annaa/bagaimana
#kaifa/bagaimana
#kam/berapa
#maadzaa/apakah, a, ayyu/apakah/yang mana

2.Isim syarath/isim yang diletakkan diantara dua kalimat

#maa/apa saja
#man/barangsiapa
#ainamaa/di/kemanapun
#haitsuma/dimanapun
#kullamaa/setiap kali

maa/man/ainamaa menjadikan dua fiil mudhori'

3.Isim zhorof/kata keterangan(zorof zaman dan zorof makan) 

A. Zorof zaman
#idz/ketika
#qobla/sebelum
#ba'du/sesudah
#al-aan/sekarang
#al yauma/hari ini

B. Zorof makan
#haitsu/di mana
#baina/di antara
#wa roo-a/ di belakang
#'inda/di sisi

4. Isim isyaroh/kata penunjuk

A. Penunjuk dekat (ini) 
#Mudzakar/haadzaa/haazaani/haa-ulaa-i
#muannats/haadzihi/haataani/haa-ulaa-i

B. Penunjuk jauh
#mudzakar/dzaalika/dzaanika/ulaa-ika
#muannats/tilka/taanika/ulaa-ika

5.Isim maushul/kata penghubung

#mudzakkar/alladzii//alladziina
#muannats/allatii/allataani/allaatii,alla-i

6.isim dhomir/kata ganti

#mutakallim/orang pertama/pembicara
#mukhotob/orang kedua/yg diajak bicara
#ghoib/orang ketiga/yang dibicarakan

A. Dhomir munfashil/berdiri sendiri
#huwa/hum/anta/antum/ana/nahnu
B. Dhomir muttashil/bersambung dg isim/fiil/huruf
#hu/hum/ka/kum/na/ya



Kamis, 13 Oktober 2022

Khutbah bahaya Riya'

Pembukaan

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلْدًا ۗ لَا يَقْدِرُوْنَ عَلٰى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوْا ۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ - ٢٦٤

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir." (QS. Al Baqarah: 264)

Ikhwanul muslimin rohinakumulloh.

Kalau kita ditanya buat apa kita beribadah?
Jawabannya pasti untuk mencari ridho Alloh SWT dan untuk memperoleh syurga yang disediakan Alloh di akhirat.

Banyak orang yang beribadah untuk memperoleh syurga akan tetapi di akhirat masuk neraka. Penyebabnya adalah karena dia beribadah bukan ikhlas karena Alloh tapi karena ingin dilihat manusia. 

Salah satu penyebabnya adalah penyakit hati yang bernama riya'(pamer istilah sekarang pencitraan)

Riya berasal dari bahasa Arab dari akar kata ra'a-yara-ruyan-wa ru'yatan yang artinya melihat.

Menurut istilah riya adalah memperlihatkan ucapan, tulisan, sikap, maupun amal perbuatannya agar diketahui orang lain.

riya' adalah salah satu ciri orang munafik.

Riya juga dapat diartikan sebagai sikap ingin dipuji atau disanjung orang lain atas perbuatan yang telah dilakukan.
Orang yang berbuat riya termasuk golongan orang yang celaka yang tidak memperoleh apapun dari apa yang mereka kerjakan. 

فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلْدًا ۗ لَا يَقْدِرُوْنَ عَلٰى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوْا ۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ

Perumpamaan  (orang yang riya'itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir." (QS. Al Baqarah: 264)

Rosululloh bersandar ok

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِيْ مِنَ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ قَالَ قُلْنَا بَلَى فَقَالَ الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُوْمَ الرَّجُلُ يُصَلِّيْ فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ “

Artinya: “Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih tersembunyi di sisiku atas kalian daripada Masih ad Dajjal?” Dia berkata,”Kami mau,” maka Rasulullah berkata, yaitu syirkul khafi; yaitu seseorang shalat, lalu menghiasi (memperindah) shalatnya, karena ada orang yang memperhatikan shalatnya.” (HR. Ibnu Majah)

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ الرِّيَاءُ  

 “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya'.” (HR Ahmad)

Hadirin ikhwanul mukminin rohimakumulloh.

Kita sebagai orang beriman menyangka orang yang pertama masuk neraka adalah orang kafir, yahudi, nasroni atau yang lainnya.

Ternyata kenyataannya yang pertama masuk neraka adalah orang Islam. yaitu orang Islam yang beramal karena riya

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﻟَﻴَﻌْﻤَﻞُ ﻋَﻤَﻞَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﻳَﺒْﺪُﻭ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﻭَﻫُﻮَ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭ

“Sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan surga – menurut yang tampak bagi masyarakat – padahal ia termasuk penduduk neraka.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Dalam hadist Riwayat Muslim disebutkan ada tiga orang yang pertama masuk neraka.

1. Orang yang berjihad fii sabilillah karena ingin disebut orang gagah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ   قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يَقُوْلُ : إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya : ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab : ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (dalam keadaan tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka.

2. Orang yang belajar dan mengajarkan Alquran karena ingin disebut orang alim dan 

وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ اْلقُرْآنَ فَأُُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْآنَ, قَالَ:كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ

Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca al Qur`an hanyalah karena engkau.’ Allah berkata : ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca al Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.

3.Orang yang betinfaq dan sadaqoh hanya karena disebut orang dermawan.

 وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَاَعْطَاهُ مِنْ اَصْْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: مَاتَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ, قَالَ: كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ, ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ

Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan b as, aqerbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya : ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta!Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’”

Tatkala Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu mendengar hadits ini, beliau berkata: “Hukuman ini telah berlaku atas mereka, bagaimana dengan orang-orang yang akan datang?” Kemudian beliau menangis terisak-isak hingga pingsan. Setelah siuman, beliau mengusap mukanya seraya berkata : Benarlah Allah dan RasulNya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ﴿١٥﴾ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka. Lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”. [Hud/11:15-16]. [HR Tirmidzi no. 2382 dan Ibnu Khuzaimah no. 2482].

Hadirin Rohinakunulloh
Nilai amal di sisi Allah diukur dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bukan dengan banyak dan besarnya. Allah berfirman :

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Katakanlah : Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Rabb kamu itu adalah Allah yang Esa. Barangsiapa mengharap perjumpaaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan jangan mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya”. [Al- Kahfi/18:110].

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Inilah dua landasan amal yang diterima, ikhlas karena Allah dan sesuai dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam