Pages

Jumat, 23 Juli 2021

Malaikat Penjaga

Quran Surat Al-Hadid Ayat 22

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

Attaubah 51

قُلْ لَّنْ يُّصِيْبَنَآ اِلَّا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَنَاۚ هُوَ مَوْلٰىنَا وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ

Katakanlah (Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman.”

Arra'du 11

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚوَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ

Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia

Ketika membahas ayat di atas, al-Hafidz Ibu Katsir menyebutkan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلاَئِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلاَئِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُونَ فِى صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِى فَيَقُولُونَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّون

“Para Malaikat dimalam dan siang hari silih berganti mengawasi kalian, dan mereka berkumpul pada saat shalat Subuh dan shalat Ashar, kemudian para malaikat yang mengawasi kalian semalam suntuk naik (ke langit). Allah menanyakan kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui dari mereka, “Dalam keadaan apakah kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku?” Mereka menjawab, “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan mengerjakan shalat” (HR. Ahmad 8341, Bukkhari 555, Muslim 1464 dan yang lainnya).

Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan,

للعبد ملائكة يتعاقبون عليه، حَرَس بالليل وحَرَس بالنهار، يحفظونه من الأسواء والحادثات، كما يتعاقب ملائكة آخرون لحفظ الأعمال من خير أو شر، ملائكة بالليل وملائكة بالنهار

Bagi setiap hamba ada malaikat yang silih berganti menjaga di waktu malam dan di waktu siang. Mereka menjaga manusia dari setiap kejahatan dan kecelakaan. Sebagaimana ada malaikat lain yang menjaga amal manusia, yang baik maupun yang buruk, ada yang menjaga siang dan malam.

Malaikat tidak meninggalkan manusia kecuali dalam dua keadaan

إِيَّاكُمْ وَالتَّعَرِّيَ ، فَإِنَّ مَعَكُمْ مَنْ لَا يُفَارِقُكُمْ إِلَّا عِنْدَ الْغَائِطِ ، وَحِينَ يُفْضِي الرَّجُلُ إِلَى أَهْلِهِ ، فَاسْتَحْيُوهُمْ وَأَكْرِمُوهُمْ (رواه الترمذي، رقم 2800)

“Hendaknya kalian tidak telanjang, karena bersama kaliau ada makhluk yang tidak berpisah dari kalian kecuali ketika dia buang air dan ketika seorang suami berhubungan badan dengan isterinya. Malulah dengan mereka dan muliakanlah mereka.” (HR. Tirmizi, no. 2800)

Malaikat pencatat
ذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ

“(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri”. (QS. Qaf : 17)

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”(QS. Qaf : 18).

Tiga rumah yang tidak dimasuki Malaikat

Hal ini didasarkan pada hadits sahih riwayat Abu Thalhah RA, bahwa Rasulullah bersabda: 

عَنْ أبي طَلْحَةَ رضي الله عنه  أنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَال: لا تَدْخُلُ المَلائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلا صُورَةٌ

"Malaikat tidak mau masuk rumah yang didalamnya ada anjing dan patung" (HR Bukhari dan Muslim). Yang dimaksud malaikat di sini tentu malaikat pembawa rahmat.

Kedua, rumah yang penghuninya tidak pernah membaca Alquran. Maka malaikat enggan bahkan meninggalkannya dan justru syetanlah yang sering berada di dekatnya. Dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Sirin, dia mengatakan: 

عَنِ ابْنِ سِيرِينَ ، قَالَ : الْبَيْتُ الَّذِي يُقْرَأُ فِيهِ الْقُرْآنُ تَحْضُرُهُ الْمَلَائِكَةُ ، وَتَخْرُجُ مِنْهُ الشَّيَاطِينُ ، وَيَتَّسِعُ بِأَهْلِهِ ، وَيَكْثُرُ خَيْرُهُ ، وَالْبَيْتُ الَّذِي لَا يُقْرَأُ فِيهِ الْقُرْآنُ تَحْضُرُهُ الشَّيَاطِينُ ، وَتَخْرُجُ مِنْهُ الْمَلَائِكَةُ ، وَيَضِيقُ بِأَهْلِهِ ، وَيَقِلُّ خَيْرُهُ

"Sesungguhnya, rumah yang di dalamnya dibacakan Alquran, maka lapanglah penghuninya, banyak kebaikan, malaikat menghadirinya dan setan-setan meninggalkannya. Sebaliknya, rumah yang tak dibacakan Alquran, maka sempitlah penghuninya, sedikit kebaikannya, malaikat meninggalkannya dan setan-setan mendekatinya."

Ketiga, rumah yang di dalamnya ada istri yang memalingkan wajahnya dan suami tidak ridho dengannya. Bahkan malaikat melaknat istri tersebut apabila enggan untuk diajak berhubungan suami istri. Dalam hadits riwayat Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda:

وعن أبي هريرةَ رضي الله عنه قَالَ: قالَ رسولُ اللَّه ﷺ: إِذَا دعَا الرَّجُلُ امْرأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فلَمْ تَأْتِهِ فَبَات غَضْبانَ عَلَيْهَا؛ لَعَنتهَا الملائكَةُ حَتَّى تُصْبحَ

"Jika seorang suami mengajak istrinya untuk berhubungan, akan tetapi ia (istri) tidak memenuhi ajakan suami, hingga malam itu suaminya marah, maka ia (istri) mendapatkan laknat para Malaikat sampai subuh." (HR Muslim)


Senin, 19 Juli 2021

Khutbah idil Adha 1444 H

Assalamualaikum  waa rohmatulloohi wa barokaatuh

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر
ألله أكبر كبيراً والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرةً وأصيلا لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمدُ
اْلحَمْدُ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنسْتغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ. وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أنْ لاَ إلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَأشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ هَذَا الرَّسُوْلِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَمَّا بَعْدُ:
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
، . إعلموا أنّ هذا اليوم يوم عظيم لقد سرّفه الله بالتّضحيّة لقوله تعالى: 
إنّا أعطيناك الكوثر، فصلّ لربّك وانحــر، إنّ شانئك هو الأبتر.
1. PEMBUKAAN
-# Pandemi Covid 19
# Gempa bumi berlindung di Masjid, Tsunami berlindung di Masjid, Gunung meletus berlindung  di Masjid , pandemi covid  19 Masjid  disuruh tutup. 
# Attaubah ayat 18
اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ ۗفَعَسٰٓى اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ
Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk
Hzxist qudsi
Dalam hadist Qudsi Alloh SWT telah berfirman : 

إِنِّي لَأَهِمُّ بِأَهْلِ الْأَرْضِ عَذَابًا، فَإِذَا نَظَرْتُ إِلَى عُمَّارِ بُيُوتِي وَإِلَى الْمُتَحَابِّينَ فِيَّ، وَإِلَى الْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ، صَرَفْتُ ذَلِكَ عَنْهُمْ"

 “Demi keagungan dan kebesaran-Ku, sesungguhnya Aku hendak menimpakan azab kepada penduduk bumi. tetapi apabila Aku memandang kepada orang-orang yang memakmurkan rumah-rumahKu dan memandang kepada orang-orang yang saling menyukai karena Aku, dan memandang kepada orang-orang yang memohon ampun di waktu sahur, maka Aku palingkan azab itu dari mereka”

2. HARI RAYA
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر ولله الحمد
Maasirol muslimin rohimakumulloh
Hari Raya Idul Adha adalah salah satu dari dua hari raya milik umat Islam. Kedua hari tersebut dirayakan dengan saling memberi dan menghidangkan makanan; sehingga berpuasa pada waktu itu dilarang secara syar'i. Ada kegembiraan umat Islam di sana. Ada pula gerakan berdimensi ekonomi-sosial; zakat dan kurban. Ada silaturahim yang khusyu' dan haru.
Kedua hari raya tersebut, dirayakan dalam bentuk ibadah yang komprehensif: individual-sosial, mikro-makro, tidak ada dikotomi perbedaan kaya-miskin, tua-muda, berpangkat maupun tanpa pangkat, berilmu maupun awam; kesemuanya sholat dalam satu tempat yang sama. Mendengarkan pesan-pesan agung dari Allah dan Rasul-Nya yang disampaikan oleh khatib. Merenungkan hikmah ilahiyah dalam setiap prosesi ibadah, tenggelam dalam takbir, tahmid dan tahlil serta beragam pujian kepada sang Khalik.
عن أنس قال: "قدم رسول اللَّه -صلى اللَّه عليه وسلم- المدينة، ولهم يومان يلعبون فيهما، فقال: ما هذان اليومان؟ قالوا: كنا نلعب فيهما في الجاهلية، فقال رسول اللَّه -صلى اللَّه عليه وسلم-: إن اللَّه عز وجل قد أبدلكم بهما خيرًا منهما، يومَ الأضحى، ويوم الفطر[2]
“Dari Anas bin Malik dia berkata, orang jahiliyah mempunyai dua  hari raya tiap tahun untuk bermain main. Setelah Rosululloh datang ke Medinah  beliau bersabda:” kalian dulu memiiki dua hari raya untuk bergembira,  sungguh Alloh swt telah menggantinya  dengan yang lebih baik dari keduanya  yaitu  Idil Fitri dan idil Adha (Qurban).

3. SEJARAH QURBAN
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر ولله الحمد
Maasirol muslimin rohimakumulloh
Umur ibadah kurban adalah setua sejarah manusia itu sendiri. Berkurban sejatinya merupakan fitrah manusia yang bersumber dari perintah Allah; dan tidak boleh didasari hawa nafsu.

1. Anak nabi Adam,  Qabil dan Habil diperintah berkurban. 
Ini terjadi karena Qabil yang mempunyai kembaran yang cantiktidak mau dinikahkan dengan kembaran Habil yang kurang cantik. Inilah suatu bukti ilmiah bahwa qurban ada yang diterima dan ada yang  ditolak. Dan disini pula terjadi pembubuhan  pertama manusia di muka bumi

Berdasarkan wahyu dari Allah SWT, Nabi Adam AS memerintahkan keduanya untuk berkurban. Siapa yang diterima kurbannya maka dialah yang berhak atas keutamaan (menikahi saudara kembarnya Qabil yang cantik).

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ ابْنَيْ اٰدَمَ بِالْحَقِّۘ اِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ اَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْاٰخَرِۗ قَالَ لَاَقْتُلَنَّكَۗ قَالَ اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ
 Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain(Qabil). Ia berkata (Qabil):"Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil:"Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa". (QS. Al Maidah: 27)

Qabil punya saudara kembar Iqlimiya yang berparas cantik. Sedangkan, Habil punya pasangan kembar Layudha berparas kurang menarik.

Ketika Nabi Adam AS hendak menikahkan mereka (Habil dengan Iqlimiya dan Qabil dengan Layudha) proteslah Qabil dan membangkang karena saudara kembar Habil jelek dan saudara kembarnya sendiri cantik. 
Sehingga Qabil menginginkan saudara kembarnya tersebut untuk dia sendiri lantaran merasa lebih berhak atas saudara kembarnya.

Qabil adalah seorang petani. Ketika diperintahkan berkurban maka dia berkurban dengan seikat gandum. Dia pilih gandum yang jelek dari tanamannya. Dia tidak peduli apakah kurbannya diterima atau tidak karena rasa sombong dan dengki sudah menguasainya.

Sedangkan Habil seorang peternak kambing, dia memilih kambing yang muda lagi gemuk untuk berkurban. Dia berkeinginan agar kurbannya diterima di sisi Allah Ta’ala. 

Setelah kurban keduanya dipersembahkan, Allah Ta’ala menurunkan api berwarna putih dan dengan izin Allah api itu membawa kurban Habil (sebagai tanda bahwa kurbannya diterima) dan meninggalkan kurban Qabil).

Al-Qurthubi menukil dari Sa’id bin Jubair rahimahullah dan lainnya bahwa kambing itu diangkat ke surga dan hidup di sana hingga diturunkan lagi ke bumi untuk dijadikan tebusan bagi Nabi Ismail AS ketika hendak disembelih oleh Nabi Ibrahim AS. Wallahu a’lam

Dalam Islam, berkurban harus lillahi ta'ala. Karena menjalankan perintah Allah; dan selalu atas perintah Allah. Karena secara literal, kata 'kurban' (ق-ر-ب) juga memiliki arti 'mendekat'.

 Dari sinilah, kurban memang ditentukan sebagai ibadah yang di antaranya fungsinya adalah mendekatkan diri kepada Allah. Bagi yang telah memenuhi kriteria, terlebih lagi mampu sangat dilazimkan untuk berkurban; bahkan jika menolak diancam tidak mendekati tempat sholat umat muslim:

(( مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلا يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا. ))
“Barang siapa mendapatkan kelapangan tetapi tidak berqurban, maka janganlah dia mendekati tempat shalat kami. (Ibnu Majah 3123)

Tentang hukum kurban, Allah SWT Berfirman: dalam surah Alhajj (22):34-35.

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا لِّيَذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلْأَنْعَٰمِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ فَلَهُۥٓ أَسْلِمُوا۟ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُخْبِتِينَ
 Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)(Al Hajj 34-35)

Alkautsar (108): 1-3
Surah Al-Kautsar

بِسْــــــــــــــــــــمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِـــــــــــــــــــــــيمِ
(1) Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ  

(2) Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri pada Allah). فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ  

(3) Sungguh, orang-orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah). إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ 

Hukum menyembelih qurban adalah sunah muaqaddah. Yang sampai kepada Alloh adalau taqwa


2. Generasi selanjutnya, Nabi Ibrahim ( Nabi yang ke 6) juga berkurban. 
 Perintah Alloh untuk berqurban datang melalui mimpi bahwa Nabi Ibrahim diminta untuk menyembelih buah hati kesayangannya Ismail yang dia dapatkan setelah usia renta. 

Ibrahim bingung dan sedih karena akan kehilangan buah hati yang telah lama dinanti sebagai penerus keturunan dan risalahnya.  Kerena  ini perintah Alloh tekad dibulatkan dan Nabi Ibrahim mengajak  anaknya Ismail berdiskusi

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, "Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!" Dia (Ismail) menjawab, "Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar." (Q.S. al-Shaffat 37:102)

Setelah diskusi mereka berjalan menuju tempat penyembelihan  dan dijalan digoda oleh syetan. Tapi berduanya tetap teguh pendirian dan akhirnya syetan pergi seyelah dilempar dengan batu 3 kali yang sekarang menjadi salah satu prosesi ibadah haji  yaitu melempar  jumroh 3 kali yaitu ula,  wustho, dan aqobah
Ismail usul agar pisau yang digunakan diasah sangat tajam dan menup matanya.

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر ولله الحمد
Maasirol muslimin rohimakumulloh
Ketika pisau  sudah menyentuh leher Ismail ternyata yang bersuara adalah kibasy dan mengucur pula darahnya, kemudian terdengar suara Wahai Ibrahim, Engkau telah membenarkan (mengerjakan) perintah!; demikianlah Kami memberi ganjaran (mengganti Ismail dengan kambing) bagi orang yang berbuat kebaikan."

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ # وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَاإِبْرَاهِيمُ # قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ # إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ # وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
103. Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (untuk melaksanakan perintah Allah).
104. Lalu Kami panggil dia, "Wahai Ibrahim (
105. sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu." Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
106. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata
107. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar
Q.S. al-Shaffat 37:103-107)

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر ولله الحمد
 Maasirol muslimin rohimakumulloh

3. Generasi ke-3 adalahNabi Musa ( Nabi ke 14) pun diperintah berkurban. 
Yang dijadikan kurban sembelihan adalah sapi; yang mana kala itu melambangkan sesembahan Bani Israil yang dibuat oleh Samiri. Dan juga untuk mengungkap peristiwa pembunuhan. Bukan melaksanakan, mereka 'ngeles' (berpaling) secara akademis: 'sapi yang bagaimana? Warnanya apa?' bahkan setelah ditemukan sapi dengan kriteria tersebut; masih ngeles: 'sapinya masih meragukannya.

Ternyata sapi dengan ciri ciri yang telah disampaikan oleh Nabi Musa A.S adalah sapi warisan seorang pemuda sholeh yang yatim . Sapi itu bersama  Mudzahhabah  karena keindahan  dan kejernihannya (sangat bagus).

 Pemuda ini  membagi malam menjadi tiga bagian sepertiganya untuk untuk tidur, sepertiga  untuk ibadah  dan sepertiga untuk duduk  dekat ibunya.

Siang hari dia mencari kayu bakar untuk di jual. Hasilnya dibagi 3, sepertiga untuk dimakan, sepertiga untuk sedekah dan sepertiga untuk ibunya.

Walaupun penuh keraguan akhirnya bani israil membeli sapi betina anak sholeh ini dibeli dengan emas  sepenuh kulitnya dan disembelih. 

Setelak disembelih mereka memukulkan bagia  dari sapi qurban tsb kepada yang dibunuh, seketika itu juga dengan izin Alloh mayit tersebut bangun degan leher masih berdarah dan menyebutkan nama pembunuhnya. Dan akhirnya si pembunuh terhalang untuk mendapatkan  warisan. 

Karena kelakuannya ini hingga sekarang, bani Israil yang sering disebut Yahudi dan Nasrani; memang tidak pernah suka melihat keikhlasan seorang muslim yang berkurban:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ
Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).” Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan. (Q.S. albaqoroh 120)

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر ولله الحمد
Ibadah kurban memang menekankan latihan ketaqwaan. 
Mengikhlaskan sebagian harta demi kepentingan umat. 
Menyembelih egoisme dan ketamakan. Memotong kuasa setan dalam aliran darah manusia; yang secara simbolis dilambangkan dengan memotong hewan kurban. Yang terpenting, kesemuanya bernilai ibadah; sosial maupun individual. 

Utamanya, bahwa yang diterima Allah dari kurban adalah ketaqwaan; bukan darah atau dagingnya.
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ #
.
Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demi-kianlah Dia menundukkannya untuk-mu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu  . Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.Q.S. al-Hajj 22:37) 
  
4. KESIMPULAN
Dari kisah Nabi  Ibrahim 
1. Adanya  hubungan yang sangat  harmonis  antara orang tua dan anaknya dimana Nabi Ibrahim ketika bermimpi menyembelih anaknya dia bertanya dulu kepada Ismail anaknya tentang mimipi itu. Nabi Ibrahim tidak egois walaupun mimpi para nabi adalah wahyu.
2. Ismail sebagai anak yang sholeh menjawab dengan tegas dan penuh keyakinan kalau itu perintah Alloh swt maka laksanakanlah jangan ragu ragu.
3. Ibadah qurban adalah wujud ketaqwaan kita kepada Alloh swt, karena darah dan daging tidak sampai kepada Alloh, tapi yang sampai adalah taqwa kita.
4. Penyembelihan hewan qurban pada hakekatnya adalah untuk mentembelih sifat kebinatangan pada diri kita seperti rakus, serakah, suka menyerang orang lain dll
5. Hewan qurban yang diterima adalah hewan yang bagus , tidak pecak matanya, tidak pincang kakinya, tidak terlalu kurus  dan tidak dalam keadaan sakit


6. DU'A






*"MASJID BUKANLAH SUMBER WABAH PENYAKIT"*By ‎: ‏M. ‏Zakaria Al Anshori ‎(Alumnus Ribat Madinah) ‏Masjid adalah salah satu alat atau media untuk bermunajat dan beribadah kepada Alloh SWT, ‏salah satu cara untuk memakmurkan atau meramaikan masjid adalah melakukan ritual keagamaan, ‏seperti ‎: ‏pengajian, ‏pembacaan sholawat, ‏iktikaf dan sholat berjamaah. ‏Hal ini sebagaiamana yang Alloh SWT jelaskan dalam Al Qur'an surat At-Taubah ayat ‎18 : إنما يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ *"Sesunguhnya orang orang yang memakmurkan masjid-masjid Alloh hanyalah orang-orang yang beriman kepada Alloh dan hari kemudian, ‏serta tetap mendirikan salat, ‏menunaikan zakat, ‏dan tidak takut ‎(kepada siapa pun) ‏selain kepada Alloh. ‏Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk dari Alloh SWT"* ‏Dalam salah satu hadist yang diriwayatkan oleh Al Imam Turmudzi dan Imam Hakim ‎: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَعْتَادُ الْمَسْجِدَ فَاشْهَدُوا لَهُ بِالْإِيمَانِ؛ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ}Sssungguhnya Rasululloh SAW telah bersabda ‎: *"Apabila kalian melihat seorang lelaki biasa pergi ke masjid, ‏maka saksikanlah oleh kalian bahwa dia beriman. ‏Alloh SWT telah berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.”* ‏Dalam riwayat yang lain dari sahabat Anas bin Malik ‎: قال رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّمَا عُمَّارُ المساجد هم أهل الله"Rasululloh telah bersabda ‎:  *"Sesungguhnya orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid itu adalah orang-orang yang beriman kepada Alloh SWT."* ‏Sungguh Ironi memang ketika ada sebagian kelompok dari kalangan Ummat Islam sendiri memberikan pemahaman bahwa salah satu sumber penyakit itu diantaranya adalah tempat ibadah salah satunya adalah ‎*MASJID*. ‏Tentu hal ini bertolak belakang dengan apa yang disampaikan oleh Rosululloh dalam satu hadist marfu' ‏yang telah di nukil dari kitab Tafsir Ibnu Kastir ‎: إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ عَاهَةً، نَظَرَ إِلَى أَهْلِ الْمَسَاجِدِ، فَصَرَفَ عَنْهُمْ" *Apabila Alloh menghendaki azab atas suatu kaum, ‏maka Dia memandang kepada ahli masjidnya ‎(orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid); ‏maka Alloh berpaling dari mereka ‎(tidak jadi mengazab mereka).* ‏Dalam hadist Qudsi Alloh SWT telah berfirman ‎: إِنِّي لَأَهِمُّ بِأَهْلِ الْأَرْضِ عَذَابًا، فَإِذَا نَظَرْتُ إِلَى عُمَّارِ بُيُوتِي وَإِلَى الْمُتَحَابِّينَ فِيَّ، وَإِلَى الْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ، صَرَفْتُ ذَلِكَ عَنْهُمْ" *"Demi keagungan dan kebesaran-Ku, ‏sesungguhnya Aku hendak menimpakan azab kepada penduduk bumi. ‏tetapi apabila Aku memandang kepada orang-orang yang memakmurkan rumah-rumahKu dan memandang kepada orang-orang yang saling menyukai karena Aku, ‏dan memandang kepada orang-orang yang memohon ampun di waktu sahur, ‏maka Aku palingkan azab itu dari mereka."* ‏Bahkan ‎1400 ‏tahun yang lalu Rosululloh SAW telah memberikan ‎*WARNING* ‏terhadap kelompok² ‏atau orang² ‏yang ingin memisahkan Ummat Islam dengan masjid, ‏yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad ‎: عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ؛ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "إِنَّ الشَّيْطَانَ ذِئْبُ الْإِنْسَانِ، كَذِئْبِ الْغَنَمِ يَأْخُذُ الشَّاةَ الْقَاصِيَةَ وَالنَّاحِيَةَ، فَإِيَّاكُمْ وَالشِّعَابَ، وَعَلَيْكُمْ بالجماعة والعامة والمسجد" ‏Dari sahabat Mu'az ibnu Jabal, ‏Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW telah bersabda ‎: *"Sesungguhnya setan itu adalah serigala manusia, ‏sama halnya dengan serigala kambing ‎: ‏ia memangsa kambing yang jauh dan kambing yang memisahkan diri. ‏Karena itu, ‏hati-hatilah kalian terhadap perpecahan, ‏berpeganglah kalian kepada jamaah ‎(persatuan), ‏publik, ‏dan masjid"* ‏Hadist ini dikatakan oleh Imam Ibnu Asyakir bahwa hadist ini adalah ‎*Ghorib*, ‏akan tetapi meskipun hadist berpredikat Ghorib tapi bukan berarti hadist tersebut adalah hadist Maudhu', ‏dan apa yang di sampaikan oleh Rosululloh SAW dalam hadist tersebut sungguh uda terjadi di akhir zaman sekarang ini.*Catatan ‎:* ‏Dalam ajaran Islam sendiri, ‏mengajarkan kepada Ummat Islam untuk dalam keadaan bersuci dan bersih ketika masuk kedalam masjid, ‏jauh sebelum adanya istilah ‎*Prokes*..والله المستعان

*"MASJID BUKANLAH SUMBER WABAH PENYAKIT"*

By : 
M. Zakaria Al Anshori 
(Alumnus Ribat Madinah)

  Masjid adalah salah satu alat atau media untuk bermunajat dan beribadah kepada Alloh SWT, salah satu cara untuk memakmurkan atau meramaikan masjid adalah melakukan ritual keagamaan, seperti : pengajian, pembacaan sholawat, iktikaf dan sholat berjamaah.

  Hal ini sebagaiamana yang Alloh SWT jelaskan dalam Al Qur'an surat At-Taubah ayat 18 : 
إنما يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

  *"Sesunguhnya orang orang yang memakmurkan masjid-masjid Alloh hanyalah orang-orang yang beriman kepada Alloh dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Alloh. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk dari Alloh SWT"*

  Dalam salah satu hadist yang diriwayatkan oleh Al Imam Turmudzi dan Imam Hakim : 

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَعْتَادُ الْمَسْجِدَ فَاشْهَدُوا لَهُ بِالْإِيمَانِ؛ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ}

Sssungguhnya Rasululloh SAW telah bersabda : *"Apabila kalian melihat seorang lelaki biasa pergi ke masjid, maka saksikanlah oleh kalian bahwa dia beriman. Alloh SWT telah berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.”*

  Dalam riwayat yang lain dari sahabat Anas bin Malik : 

قال رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّمَا عُمَّارُ المساجد هم أهل الله"

Rasululloh telah bersabda : 
  *"Sesungguhnya orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid itu adalah orang-orang yang beriman kepada Alloh SWT."*

  Sungguh Ironi memang ketika ada sebagian kelompok dari kalangan Ummat Islam sendiri memberikan pemahaman bahwa salah satu sumber penyakit itu diantaranya adalah tempat ibadah salah satunya adalah *MASJID*. Tentu hal ini bertolak belakang dengan apa yang disampaikan oleh Rosululloh dalam satu hadist marfu' yang telah di nukil dari kitab Tafsir Ibnu Kastir : 

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ عَاهَةً، نَظَرَ إِلَى أَهْلِ الْمَسَاجِدِ، فَصَرَفَ عَنْهُمْ"

 *Apabila Alloh menghendaki azab atas suatu kaum, maka Dia memandang kepada ahli masjidnya (orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid); maka Alloh berpaling dari mereka (tidak jadi mengazab mereka).*

  Dalam hadist Qudsi Alloh SWT telah berfirman : 

إِنِّي لَأَهِمُّ بِأَهْلِ الْأَرْضِ عَذَابًا، فَإِذَا نَظَرْتُ إِلَى عُمَّارِ بُيُوتِي وَإِلَى الْمُتَحَابِّينَ فِيَّ، وَإِلَى الْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ، صَرَفْتُ ذَلِكَ عَنْهُمْ"

   *"Demi keagungan dan kebesaran-Ku, sesungguhnya Aku hendak menimpakan azab kepada penduduk bumi. tetapi apabila Aku memandang kepada orang-orang yang memakmurkan rumah-rumahKu dan memandang kepada orang-orang yang saling menyukai karena Aku, dan memandang kepada orang-orang yang memohon ampun di waktu sahur, maka Aku palingkan azab itu dari mereka."*

  Bahkan 1400 tahun yang lalu Rosululloh SAW telah memberikan *WARNING* terhadap kelompok² atau orang² yang ingin memisahkan Ummat Islam dengan masjid, yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad : 

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ؛ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "إِنَّ الشَّيْطَانَ ذِئْبُ الْإِنْسَانِ، كَذِئْبِ الْغَنَمِ يَأْخُذُ الشَّاةَ الْقَاصِيَةَ وَالنَّاحِيَةَ، فَإِيَّاكُمْ وَالشِّعَابَ، وَعَلَيْكُمْ بالجماعة والعامة والمسجد"

   Dari sahabat Mu'az ibnu Jabal, Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW telah bersabda : 

   *"Sesungguhnya setan itu adalah serigala manusia, sama halnya dengan serigala kambing : ia memangsa kambing yang jauh dan kambing yang memisahkan diri. Karena itu, hati-hatilah kalian terhadap perpecahan, berpeganglah kalian kepada jamaah (persatuan), publik, dan masjid"*

  Hadist ini dikatakan oleh Imam Ibnu Asyakir bahwa hadist ini adalah *Ghorib*, akan tetapi meskipun hadist berpredikat Ghorib tapi bukan berarti hadist tersebut adalah hadist Maudhu', dan apa yang di sampaikan oleh Rosululloh SAW dalam hadist tersebut sungguh uda terjadi di akhir zaman sekarang ini.

*Catatan :*

   Dalam ajaran Islam sendiri, mengajarkan kepada Ummat Islam untuk dalam keadaan bersuci dan bersih ketika masuk kedalam masjid, jauh sebelum adanya istilah *Prokes*..

والله المستعان